Aneka produk olahan susu fermentasi saat ini populer sebagai
pangan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Produk olahan
susu fermentasi yang banyak dikonsumsi dan beredar luas di masyarakat misalnya
yogurt dan kefir. Sebenarnya produk olahan susu fermentasi sudah lama dikenal
di Indonesia. Sebut saja, masyarakat Sumatera Barat yang sudah lama mengenal
dan mengonsumsi dadih, yaitu produk susu kerbau fermentasi.
Dadih adalah pangan tradisional yang sudah dikonsumsi sejak
lama oleh masyarakat Sumatera Barat. Masyarakat pedesaan sering mengonsumsi
dadih secara langsung atau sebagai lauk pauk pendamping nasi.
Pembuatan dadih
Dadih terbuat dari fermentasi susu kerbau. Teknologi
pembuatannya sangat sederhana. Setelah diperah, susu kerbau langsung dimasukkan
ke dalam sepotong ruas bambu segar dan ditutup dengan daun pisang. Selanjutnya
didiamkan atau difermentasi secara alami dalam suhu ruang selama satu sampai
dua hari sampai terbentuknya gumpalan.
Dalam waktu 24 jam, mikroba dari bambu akan menggumpalkan
susu menjadi semacam puding atau tahu putih kekuning-kuningan, kental dan
beraroma khas (kombinasi aroma susu dan bambu). Setelah proses fermentasi
selesai, dadih dapat langsung dimakan.
Yudoamijoyo ddk (1983) menyebutkan dadih mengandung zat gizi
sebagai berikut: kadar air (84,35%), protein (5,93%), lemak (5,42%),
karbohidrat (3,34%). Kadar keasaman (pH) dadih adalah 3,4. Di dalam dadih diisolasi dan didentifikasi 36 strain bakteri
pembentuk asam laktat.
Manfaat dadih
Dari beberapa penelitian diketahui bahwa dadih mengandung
bakteri asam laktat (BAL) yang potensial sebagai probiotik. Di dalam dadih
terdapat bakteri asam laktat (salah satu jenis bakteri probiotik) yang berperan
dalam pembentukan tekstur dan cita rasa.
Bakteri asam laktat dan produk turunannya mampu mencegah
timbulnya berbagai penyakit seperti mencegah enterik bakteri patogen,
menurunkan kadar kolesterol di dalam darah, mencegah kanker usus, anti mutagen,
anti karsinogenik dan meningkatkan daya tahan tubuh (Suryono, 2003).
Selain itu, dadih diduga efektif sebagai antivaginitis
(Suryono, 1996).
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Eni Harmayani dari
Fakultas Teknologi Pertanian UGM berhasil melakukan isolasi bakteri asam laktat
(BAL) dari dadih. Bakteri tersebut dinamakan Lactobacillus sp. Dad 13.
Selanjutnya berdasarkan uji in vitro dan in vivo ternyata
BAL dari dadih terbukti ampuh menurunkan kolesterol.
Percobaan pada hewan menunjukkan bahwa dadih efektif
menurunkan kolesterol 39,8% pada hewan coba yang diberi pakan tanpa kolesterol
dan 13,4% pada hewan yang diberi pakan tinggi kolesterol. Sedangkan pemberian
susu fermentasi oleh probiotik dari dadih yang dipasteurisasi dan disterilisasi
mampu menurunkan kolesterol sebanyak 42-45% pada pakan tinggi kolesterol dan
50-53% pada pakan tanpa kolesterol.
Mengatasi kolesterol
Hasil penelitian tersebut tentu menjadi kabar baik bagi
penderita penyakit jantung koroner dan orang yang memiliki kandungan kolesterol
dalam darah yang tinggi. Artinya, dadih potensial sebagai pengendali
kolesterol.
Tidak hanya berhenti sampai di sana, Dr. Eni Harmayani terus
melakukan penelitian inovatif untuk membuat tablet effervescent yang berisi
dadih. Sehingga dadih dapat disimpan dalam waktu yang lama, mudah dibawa ke
mana-mana dan lebih praktis. Bila diperlukan, konsumen tinggal memasukkan
tablet ke dalam segelas air matang dan segera meminumnya.
Konsumsi dadih secara langsung tidak menimbulkan diare atau
keracunan. Diduga asam laktat yang terdapat di dalam dadih mampu mengalahkan
bakteri jahat yang terdapat di dalam susu. Bakteri probiotik di dalam dadih
mampu bertahan di dalam saluran pencernaan manusia.
Namun sayang, meski dadih merupakan produk lokal dalam
negeri sendiri, namun riset tentang bakteri asam laktat di dalam dadih sangat
intensif dilakukan para peneliti Jepang.
Sekarang ini di Jepang telah dipasarkan yogurt yang
mengandung bakteri baik asal dadih yang memiliki merek dagang Dadihi.
Padahal selain dadih, susu kerbau fermentasi sudah dikenal
oleh masyarakat di beberapa daerah lain.
Di Aceh, susu kerbau dibuat menjadi mentega dan minyak
samin, sedangkan di Sumatera Utara, susu kerbau fermentasi disebut dali.
Dengan semakin banyaknya penelitian inovatif dalam bidang
pengolahan susu kerbau fermentasi dapat diharapkan susu kerbau menjadi salah
satu alternatif sumber protein hewani yang tersedia secara murah di perdesaan
sehingga kasus gizi buruk (malnutrisi) yang merebak di beberapa daerah
belakangan ini dapat dicegah.


.jpg)

.jpg)
.jpg)